Selasa, 11 Desember 2012

FILSAFAT DAN AGAMA

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan ini kita tidak terlepas akan adanya ilmu, filsafat dan agama. Seperti apa kinerja ilmu, bagaimana hubungan antara ilmu dan filsafat. Begitu pula agama yang kita pandang sebagai keyakinan yang bersumberkan pada wahyu Tuhan, sejauh manakah kalau dikaitkan pada pandangan filsafat, bagaimana hubungan agama dan filsafat. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kiranya menarik sekali untuk kita bahas, maka dari itu penulis akan mencoba mengulas sedikit tentang Ilmu, Filsafat, dan agama beserta hubungan-hubungan atau keterkaitan yang ada padanya.
Maka sebelum membahas lebih rinci mengenai hubungan antara ilmu, filsafat dan agama, perlu kiranya terlebih dahulu kita membahas sepintas apa yang dinamakan ilmu, filsafat maupun agama. Yang lebih jelasnya akan diterangkan di bawah ini.


PEMBAHASAN
1. Ilmu dan Filsafat
Ilmu merupakan pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akalnya yang sistematis, obyektif dan disusun menjadi bentuk pola yang teratur. 
Berangkat dari persoalan tersebut, dalam mencoba menjelaskan hubungan filsafat dan ilmu, terlebih dahulu kita perlu mengenal relevansi dan perbedaan keduanya. Namun sebelum masuk pada inti pembahasan, perlu kiranya kita mengetahui bagaimana sejarah kuno dalam melahirkan peradapan yang tinggi, sehingga membawa pertumbuhan dan perkembangan ilmu seperti sekarang ini.
Secara umum, orang mengakui bahwa di jaman kuno orang Yunani adalah merupakan orang-orang yang terkemuka sebagai bangsa yang ditakdirkan mempunyai akal yang jernih. Memang pada umumnya sejarah kemanusiaan telah mencapai kebudayaan yang tinggi di beberapa tempat. Misalnya, India, Tiongkok, Persia, Mesir dan lain sebagainya.
Bangsa-bangsa tersebut telah mengalami masa yang gemilang dimana kekayaan material dan kekuasaan merupakan faktor yang menguntungkan untuk menanamkan organisasi sosial dan politik, mengembangkan arsitek dan kesuasteraan yang tinggi. Ternyata jiwa ilmiah pada bangsa Yunani mampu berkembang dan melepaskan diri dengan bebas setelah mereka menemukan nilai kekuasaan dari akal manusia. Keistimewaan orang Yunani inilah yang merupakan salah satu dari pada peradaban dunia, karena disitu kemenangan jiwa telah ditetapkan.
Bagi orang Yunani, ilmu adalah keterangan akal rasional dari segala sesuatu. Dunia sebenarnya adalah suatu kosmos kesatuaan yang teratur dan aturan ini sifatnya dapat dipahami oleh akal manusia. Aturan ini adalah kausalitas, sehingga keterangan dari semua kejadian itu dapat dicari pada asal usul kejadian tersebut. Tiga dasar ini yaitu kosmos, rasional dan kausalitas telah menguasai ilmu orang Yunani.
Penyelidikan orang Yunani yang ilmiah ini, didasarkan atas fakta-fakta dan atas usaha-usaha penyelidikan tentang urutan-urutan sebab dan akibat sampai pada yang terahir. Dari hal tersebut di atas maka ilmu menurut Ir. Poedjawijatna adalah pengetahuan yang sadar dan menurut kebenaran yang bermetodhos, bersistem dan berlaku universil. Maka dalam hal ini batas objek ilmu hanya sampai pada pengalaman. Di luar pengalaman ilmu tidak mampu untuk menjangkaunya, karena memang bukan wewenang ilmu untuk bertindak diluar pengalaman. Oleh karena, bisa jadi bagi ilmu, menganggap tidak ada apa-apa (kosong) di luar alam semesta ini, tetapi kenyataan yang sebenarnya tidaklah demikian. Inilah pengalaman-pengalaman yang hanya bisa dijawab oleh filsafat.
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui perbedaan ilmu dan filsafat serta hubungan satu sama lainnya sebagai hubungan mutlak tunggal. Filsafat nampak jelas pada bagian-bagian yang disebut ilmu. Sedangkan teori ilmu tidak boleh disebut filsafat. Bagaimana kita bisa mengenal ilmu kalau kita tidak mengenal filsafat dalam arti yang luas dan universal. Ilmu hanya bisa dilahirkan dengan berfilsafat melalui penalaran yang mendalam dari pengalaman-pengalaman yang ditemukannya.
Seperti obyek ilmu yang bersandar pada pengalaman, filsafatpun dalam menjalankan tugasnya juga bersandarkan pula pada fakta pengalaman, sehingga harus juga memelihara dan memperhitungkan dengan ilmu. Ini berarti bahwa filsafat itu mengikuti perkembangan ilmu-ilmu. Untuk menjawab persoalan seperti hal tersebut dibutuhkan penyelidikan oleh filsafat itu sendiri. Dan tidak bisa tuntas dengan uraian yang singkat. Filsafat tidak secara mutak tergantung pada ilmu, bahkan bisa mencari kejelasan sendiri tanpai memakai hasil-hasil ilmu.
Dengan adanya kemajuan filsafat, ilmu juga mendapat keuntungan yang sangat istimewa. Dapat diharapkan bahwa seorang ilmuan akan memperlihatkan dan membedakannya antara kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari teknik dan logika ilmiah dengan kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari uraian filsafat. Kritik pada pengetahuan yang bersifat filosofis juga menerangi kerja ilmuan dengan menunjukkan sifat batas serta arti segala kemungkinan-kemungkinan.
Dalam hal hubungan antara filsafat dan ilmu seperti yang diuraikan di atas, Ir poedjawijatna menyatakan bahwa filsafat dan ilmu bertemu pada objek materia dan yang membedakan adalah objek formalnya. Batasnya jadi terang, akan tetapi dalam praktek sering juga ada kekacauan. Hal ini tidak mengherankan sebab yang diselidiki objeknya sama, sedang yang menyelidiki juga sama yaitu manusia. Manusia yang ingin tau tidak selalu sadar akan batas tugas dan batas bidang ilmu yang menjadi wilayahnya masing-masing. Memang sebaliknya harus diakui, bahwa batas ini dalam teoripun tidak selalu jelas, atau harus ada kesediaan dari pihak ilmu maupun filsafat untuk tidak mencampurkan tugas dan wilayahnya masing-masing.
Walaupun demikian antara ilmu dan filsafat ada juga hubungannya. Filsafat memang dalam penyelidikannya dimulai dari apa yang dialami manusia, karena takkan ada pengetahuan kalau tidak bersentuhan dengan panca indra. Sedangkan ilmu yang hendak menelaah hasil panca indra itu tidak mungkin untuk mengambil keputusan dan menjalankan fikiran tanpa mempergunakan dalil dan hukum pikiran yang dialaminya. Bahkan ilmu dengan amat tenang menerima sebagai suatu kebenaran.
Sebaliknya filsafatpun memerlukan data dari ilmu jika misalnya ahli filsafat kemanusiaan hendak menyelidiki manusia serta hendak menentukan siapa manusia itu? Ia memang harus mengetahui segala tindakan manusia. Dalam hal ini ilmu yang bernama psikologi akan menolong filsafat melalui hasil penyelidikannya. Kesimpulan filsafat kemanusiaan akan amat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan hasil psikologi.

2. Agama dan Filsafat
Sementara itu, hubungan filsafat dan agama seringakali diperdebatkan antara satu sama lainya, bahkan kadang-kadang terjadi clash antara ahli filsafat dan ulama. Apabila kita mengetahui bahwa kemampuan mengenal kita adalah bukan merupakan satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebenaran tetapi disamping itu ada kerja yang lain untuk mendapatkan kebenaran.
Orang islam dan juga yang beragama lain memegangi kepercayaan yang kuat terhadap wahyu dari Tuhan yang disampaikan oleh rasul-rasul-Nya. Dengan demikian, orang islam tidak hanya mempunyai sumber alamiah saja tetapi juga sumber di luar alam bagi pengetahuannya. Maka sejak dahulu kala, telah berabad-abad manusia mempersoalkan hubungan yang mempertalikan kepercayaan dengan pengetahuan yang wajar.
Agama menamakan kepercayaan, keyakinan yang disebut aqidah (teologi) dengan dasar kebenarannya adalah wahyu tuhan yang terkandung dalam kitab suci-Nya. Tujuan teologi dengan uraian yang metodis berusaha mengolah isi kepercayaan itu menjadi suatu kebulatan yang bersistematik ilmiah. Di dalam menyusun sistem teologi ini, bermacam-macam ilmu alamiah dipakai sebagai alat bantu seperti, sejarah, psikologi ,filsafat dan pengetahuan lainnya, tetapi semua ini harus berjalan di bawah sorotan kepercayaan tanpa merusak metafisis dari pada wahyu itu sendiri walaupun sedikit.
Dapatl dikatakan bahwa apa yang disebut iman dalam suatu agama tak lain adalah kepercayaan tentang Tuhan atau yang disebut "ada". Di situlah letaknya bahwa manusia harus beriman, tetapi di sisi lain manusia juga berfikir tentang imannya. Iman sering disalah tafsirkan oleh sebagian manusia, baik di kalangan ulama-ulama atau filosof-filosof sendiri. Kesalahan penafsiran ini nampak pada adanya perbedaan antara agama dan filsafat. Bahwa agama pada dasarnya adalah iman, sedang filsafat dasarnya adalah akal pikiran, atau agama berangkat dari wahyu dan filsafat berangkat dari usaha manusia.
Kekayaan yang terkandung di dalam wahyu itu memuat kebenaran-kebenaran yang terletak di luar akal manusia seperti sifat tuhan. Tentang kejadian alam yang selalu merupakan sebuah misteri bagi manusia yang tidak paham agama. Tatapi wahyu juga mengandung kebenaran-kebenaran yang intinya dapat dicapai oleh akal pikiran manusia dengan kekuatannya sendiri, seperti hukum alam, tentang kemungkinan adanya Tuhan dan sebagainya.
Dalam persinggungan filsafat dengan teologi (aqidah) dalam menyinggung kebenaran, filsafat adalah pembantu pengungkap kekayaan wahyu. Dari hal inilah maka muncul bagaimana persoalan antara filsafat dengan wahyu, Dalam hal hubungan antara keduanya adalah:
1. Di dalam urut-urutan kedudukan dalam humanitas maka teologi menduduki tempat yang leblh tinggi dari filsafat, baik dikenakan obyek pembehasannya yang bersifat gaib atas alam, maupun kerena dasar formal yang menjadi jaminan kebenarannya yaitu firman Tuhan yang tidak mungkin salah. Berdasarkan hal tersebut maka kesimpulanya adalah filsafat tidak pernah bertentangan dengan kebenaran yang di wahyukan atau manentang kesimpulan yang didasarkan atas fundamental teologi. Kerena sesuatu itu tidak bisa sekaligus benar atau salah. Jadi teologi merupakan norma-norma negatif bagi filsafat dalam arti bahwa teologi tidak menerima dalil-dalil yang mengandung kemungkinan terhadap kebenaran yang telah dibuktikan secara teologis. Sementara itu, A hanafi, M.A dalam bukunya pengantar filsafat islam menyatakan pandangan al-Farabi bahwa tujuan filsafat dan agama bagi al-Farabi adalah sama. Yaitu mengetahui semua wujud. Hanya saja filsafat memakai dalil-dalil yang diyakini dan ditunjukkan oleh golongan tertentu, sedang agama memakai cara Iqna'i (pemuasan perasaan) dan kiasan-kiasan serta gambaran yang ditujukan kepada semua orang, bangsa dan negara. Prof Ir Poedjawijatna dalam membicarakan kebenaran mengatakan sebagai berikut:
Kebenaran sesuatu dalam agama tergantung kepada diwahyukan atau tidaknya. Yang diwahyukan Tuhan haruslah dipercayai, oleh karena itu agama disebut kepercayaan. Alasan filsafat untuk menerima kebenaran bukanlah kepercayaan, akan tetapi penyelidikan sendiri. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi tidak mendasarkan pennyelidikannya atas wahyu. Mungkin ada beberapa hal yang masuk kewilayah agama yang juga diselidiki filsafat. Selanjutnya dikatakan bahwa antara filsafat dan agama pada pada prinsipnya tidak ada pertentangan, karena kalau kedua-duanya memang mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu tentulah satu dan tidak mungkin berbeda. Tak mungkin sesuatu itu pada prinsipnya benar dan tidak benar. Pada akhirnya secara tegas dikatakan bahwa lapangan agama dan filsafat dalam beberapa hal mungkin sama, akan tetapi pada dasarnya amat berlainan. filsafat berdasarkan fikiran, sedangakan agama berdasarkan atas wahyu.
 
2. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kepercayaan agama itu telah memberi pengaruh yang positif terhadap filsafat. Bukanlah filsafat telah mengalami perubahan dasar sehingga benar-benar dinamakan agamis, dan dengan begitu dia bukan filsafat yang sebenarnya lagi.bdi tinjau dari sejarah, agama islam, yahudi maupun kristen yang mengajarkan tentang hidup telah memberi pengaruh yang dalam pada pikiran-pikiran filsafat terutama terhadap pikiran-pikiran mereka yang menganut agama tersebut.
Memang kepercayaan agama dari luar dapat memberi arah kepada seseorang filosof dengan mengemukakan suatu obyek (tujuan) yang akan dicapai seperti menyusun suatu pembuktian tentang adanya Tuhan, mencari perbedaan antar alam, pribadi dan sebagainya. Hendaknya kita perhatikan bahwa suatu kebenaran baru masuk formal dalam pandangan filsafat apabila dimengerti dengan segala realitas atau bila kita mampu mencapai suatu proses discursive (berpisah dari satu objek ke objek yang lain)
Apabila kita umpamanya meyakinkan bahwa Tuhan itu ada maka dalil ini hanya akan diambil dari filsafat dengan ukuran dimana kita membayangkan akan membuktikannya dengan alat-alat ilmiah, jika tidak begini keadaannya maka kebenaran dalil itu bagaimanapun juga dasarnya adalah tidak filosofis. Karena itu, maka arah positif yang dapat diberikan oleh teologi pada filsafat bagaimanapun harganya adalah tetap hanya merupakan suatu keadaan yang membawa filsafat kedalam suatu suasana. Kepercayaan merupakan sesuatu yang berjalan di muka filsafat tetapi bediri di luar apa yang merupakan aktifitas filsafat yang sebenarnya.
 
Seperti yang diberitahukan oleh agama-agama samawi maka kita berada pada neveau (tingakatan) yang lebih tinggi dari tingkatan akal murni. apabila teologi itu pada kenyataannya besifat agama maka filsafat tidaklah demikian tetapi tetap bersifat rasional dan kemanusiaan murni. Tetapi kebijaksanaan Tuhan tidaklah merusak aturan alam, bahkan mengangkatnya.
Kebijaksanaan Tuhan berbeda dengan aturan alam tetapi ia menerima aktivitas alam, bahkan memperkayanya. Perkembangan seorang muslim umpamanya menghendaki agar dia menggunakan kekuatan alam secara formal dan dalam kenyataannya memang berbeda dengan kekuasaan Tuhan. Seseorang yang beragama islam akan dapat mengembangkan kemampuannya secara wajar dan harmonis. Dengan begitu akan lebih sesuai dengan kehidupan keagamaannya.
Demikinlah perbedaan atau relevansi ilmu dengan filsafat dan filsafat dengan agama, yang kesemuanya mempunyai titik ketersinggungan satu sama lainnya, bahkan kesemuanya saling memperkuat. Hanya saja kesalahpahaman terhadap ketiganya disebabkan oleh adanya wawasan yang sempit di antara, ilmuan, filosuf dan ulama-ulama.
KESIMPULAN

1. Persamaan
Ilmu, filsafat dan agama mempunyai persamaan tujuan, yaitu mencari kebenaran.

2. Perbedaan
Ilmu, filsafat, dan agama menpumyai perbedaan dalam sumber, cara memperoleh kebenaran, dan sifat kebenarannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar